Keuangan

Margin vs markup: bedanya dengan contoh rupiah

Oleh Numbrixiya EditorialDiterbitkan: Diperbarui: 4 menit baca

Kesalahan paling mahal di warung kelontong sering terdengar sepele: bilang “margin 20%” padahal yang dihitung markup. Margin bertanya berapa bagian harga jual yang jadi laba. Markup bertanya berapa bagian modal yang jadi laba. Kalkulator margin dan markup menampilkan keduanya berdampingan dalam rupiah (IDR).

Artikel ini informasi umum. Bukan saran bisnis, akuntansi, atau hukum.

Mulai dari salah paham yang sering terjadi

Pemilik toko bilang ke karyawan: “Jangan jual di bawah margin 20%.” Karyawan menaikkan modal Rp40.000 dengan 20% menjadi Rp48.000. Padahal yang dimaksud pemilik adalah 20% dari harga jual, yang butuh harga Rp50.000. Selisih Rp2.000 per unit terasa kecil sampai stok ratusan pcs.

margin % = (harga − modal) ÷ harga × 100
markup % = (harga − modal) ÷ modal × 100

Pembilang sama. Hanya penyebut yang beda.

Contoh 1: snack kemasan modal Rp40.000

Modal Rp40.000, harga etalase Rp50.000.

  1. Laba = 50.000 − 40.000 = Rp10.000.
  2. Margin = 10.000 ÷ 50.000 × 100 = 20%.
  3. Markup = 10.000 ÷ 40.000 × 100 = 25%.

Pustaka situs mengonfirmasi 20% margin dan 25% markup. Harga dari margin 20%: 40000 ÷ (1 − 0,20) = 50000. Harga dari markup 25%: 40000 × 1,25 = 50000. Tiket sama, label beda.

Cek balik sebelum stiker ditempel

Kalau bos meminta margin 20% dengan modal Rp40.000, langkah aman adalah 40000 ÷ (1 − 0,20) = 50000, bukan menambah 20% ke modal. Kalau yang dimaksud markup 25%, rumusnya 40000 × 1,25 = 50000. Dua jalur, satu harga etalase. Tab «harga dari margin» dan «harga dari markup» di alat mengikuti urutan itu.

Contoh 2: pulsa atau voucher fisik Rp25.000

Modal Rp25.000, harga jual Rp40.000.

  1. Laba = Rp15.000.
  2. Margin = 15.000 ÷ 40.000 × 100 = 37,5%.
  3. Markup = 15.000 ÷ 25.000 × 100 = 60%.

Terverifikasi di perpustakaan yang sama. Markup 60% terdengar “gendut” di obrolan grup, tetapi itu bukan margin. Margin 60% atas modal 25.000 akan menuntut harga 25000 ÷ (1 − 0,60) ≈ 62.500, jauh di atas Rp40.000.

Kenapa tim saling silang

Yang belanja ke supplier sering berpikir markup atas nota. Yang pegang kasir berpikir margin atas uang pembeli. Spreadsheet menyalin judul “margin” sambil membagi dengan modal. Solusinya: tulis rumus di samping angka, atau lihat kedua persentase sekaligus seperti di alat ini.

Saat modal mendekati harga, kedua persentase terlihat mirip dan kesalahan tersembunyi. Saat modal jauh lebih kecil, jaraknya melebar dan rapat jadi panas.

Obrolan grup warung yang sama-sama bilang «20%»

Pemilik mengetik: «Snack kemasan jangan di bawah margin 20%.» Karyawan buka bon supplier, modal Rp40.000, lalu markup 20% jadi Rp48.000. Di etalase sudah terpasang Rp50.000, yang memang margin 20% dari harga jual. Keduanya yakin sudah patuh. Baru ketika ditanya «20% dari harga atau dari modal?» terlihat selisih Rp2.000 per bungkus. Satu kalimat «20% dari harga jual» atau «25% markup dari modal» menyelamatkan ratusan pcs sebelum stok habis.

Tiga unit tidak mengubah persen per unit

Tiga bungkus seharga Rp50.000 dengan modal Rp40.000 memberi omzet Rp150.000, total modal Rp120.000, laba Rp30.000. Margin per unit tetap 20%, markup 25%. Kuantitas hanya menaikkan total rupiah.

Voucher fisik: skenario yang sama di hari ramai

Bayangkan lima voucher terjual dengan modal Rp25.000 dan harga Rp40.000 tanpa ubah angka. Laba per lembar Rp15.000, margin 37,5%, markup 60%. Total laba Rp75.000 dari omzet Rp200.000. Jika seseorang mempromosikan «margin 60%» karena markup terdengar mengesankan, harga yang keluar bukan Rp40.000 melainkan mendekati Rp62.500 dari rumus margin pada modal 25.000. Itulah mengapa label harus menyebut dasar, bukan hanya angka bulat.

Kesalahan yang sering diulang

Menganggap 20% bisa dipakai untuk kedua istilah. Pada contoh snack, margin 20% dan markup 20% menghasilkan harga berbeda (50.000 versus 48.000).

Memakai label margin lama setelah diskon. Diskon menurunkan harga. Hitung ulang margin dengan harga baru.

Membagi dengan nol. Markup butuh modal bukan nol. Margin butuh harga bukan nol.

Lupa menyebut dasar di chat. Tulis “37,5% margin (dari harga)” atau “60% markup (dari modal)”.

Mengganti mata uang di tengah contoh. Pemilih mata uang hanya mengatur simbol dan pembulatan. Ketik angka yang sudah dalam IDR.

Menyalin persen voucher ke snack. Markup 60% pada Rp25.000 / Rp40.000 bukan margin 60%. Tempel angka itu ke snack Rp40.000 / Rp50.000 tanpa baca basis akan mengacaukan dua baris yang masing-masing benar sendiri.

Jawaban singkat di badan artikel

Apakah margin 20% sama dengan markup 20%? Pada Rp40.000 dan Rp50.000, tidak: yang pertama butuh harga Rp50.000, yang kedua Rp48.000. Bisakah markup lebih besar dari margin? Ya, karena modal lebih kecil dari harga jual. Jika modal sama dengan harga, laba nol dan kedua persen menjadi 0%. Ini aritmetika belajar, bukan saran bisnis untuk toko Anda.

Coba di kalkulator

Buka kalkulator margin, pilih IDR, uji modal 40000 dan harga 50000, lalu 25000 dan 40000. Pastikan pasangan 20%/25% dan 37,5%/60%.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah margin 20% sama dengan markup 20%?

Tidak. Dengan modal Rp40.000 dan harga Rp50.000, margin 20% dan markup 25%. Laba rupiah sama, penyebut berbeda.

Angka mana yang dipakai untuk menentukan harga etalase?

Pakai definisi yang sudah dipakai toko Anda. Jika laporan berbicara bagian dari harga jual, pakai margin. Jika berbicara kenaikan atas modal, pakai markup. Sebutkan dasarnya.

Bisakah markup lebih besar dari margin pada penjualan yang sama?

Bisa, bila harga lebih tinggi dari modal. Markup membagi dengan modal (dasar lebih kecil), jadi persentasenya lebih besar untuk laba yang sama.

Bagaimana jika modal sama dengan harga?

Laba nol. Margin dan markup menjadi 0%.

Apakah ini saran bisnis?

Bukan. Ini aritmetika umum untuk belajar rumus. Bukan saran akuntansi, pajak, atau bisnis untuk kasus Anda.